English | Lihat PDF

Pengalihan Proyek Budidaya Ikan di Komodo
Menyatukan pemerintah, masyarakat, LSM dan swasta

 

sejarah proyek
1997: kajian awal
1997–1999: proyek gango
1998–2002: pengumpulan induk
2000: studi kelayakan panti benih
2002: UKL/UPL (kajian dampak lingkungan)
2003: penandatangan MOU antara TNC dan Research Center Institute of Aqua-culture
2002–2003: pembangunan panti benih
2003: peresmian panti benih oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr. Rokhmin Dahuri (Juli)
2003: unit pembesaran di kampung Warloka
2004: terjualnya kerapu hasil panen pertama (Juni)
2004: unit pembesaran di kampung Menjaga
2004–2005: identifikasi mitra-mitra usaha
2005: pengalihan ke PT Karamba (Juli)

lokasi
Loh Mbongi, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

jenis ikan budidaya
kerapu macan, kerapu tikus, kerapu lumpur, kakap merah dan kakap putih

para mitra
Balai Taman Nasional Komodo; Direktorat Jenderal PHKA Dep. Kehutanan; Pemkab Manggarai; Pemkab Manggarai Barat; Dept. of Primary Industries, Queensland; Network of Aquaculture Centers in Southeast Asia (NACA)
 

The Nature Conservancy Coral Triangle Center telah berhasil melakukan proses pengalihan proyek budidaya ikan Komodo kepada sebuah perusahaan Indonesia yang berpengalaman, yaitu PT Karamba Mertha Buana. Perusahaan ini memiliki pengetahuan teknis dan kemampuan pendanaan yang dibutuhkan, serta kesungguhan untuk bekerjasama dengan masyarakat lokal. Hal ini sangat sesuai dengan tujuan semula saat proyek dibangun, yaitu mengubah proyek budidaya ini menjadi usaha yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal.

Broodstock cage at the fish culture facility ©Trevor Meyer/The Nature ConservancySejak menangani proyek budidaya ikan di Komodo, PT Karamba melakukan berbagai kegiatan untuk memperkuat kemampuan panti benih memproduksi anak-anak ikan. Perusahaan ini akan fokus pada tiga jenis ikan: kerapu tikus, kerapu macan, dan sedang menjajaki kemungkinan budidaya kerapu sunu. Sterilisasi seluruh panti benih telah dilakukan untuk memastikan kualitas dan kesehatan anak ikan. Pelatihan kepada para teknisi panti benih - yang sebelumnya adalah karyawan The Nature Conservancy - diberikan dalam rangka pengenalan teknologi baru dan dilakukan pula modifikasi peralatan yang ada. PT Karamba juga melibatkan unit pembesaran milik kelompok masyarakat, untuk membesarkan anak ikan sehingga menjadi dewasa dengan berat sekitar 50-100 gram.

Grow out unit managed by community group ©Trevor Meyer/The Nature ConservancyPT Karamba merupakan perintis pembesaran kerapu tikus di kawasan timur Indonesia. Ahli perikanan di perusahaan tersebut terlibat langsung dalam pembangunan awal pusat penelitian ternama di Indonesia yaitu Balai Budidaya Perikanan Gondol di Bali. PT Karamba berhasil memasarkan kerapu tikus dengan harga jual 30% lebih tinggi. Perusahaan ini meyakini bahwa kemitraan dan membina kepercayaan jangka panjang adalah mutlak dibutuhkan ketika menjalin kemitraan dengan nelayan dan masyarakat lokal. Tanpa mereka, proyek-proyek seperti tidak akan berhasil.

The Nature Conservancy memulai proyek budidaya ikan di Komodo pada tahun 1998, bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Komodo, Pemerintah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Bulan Maret 2003, The Nature Conservancy membangun fasilitas panti benih di Loh Mbongi untuk 1) menyediakan matapencaharian alternatif bagi nelayan di dalam dan sekitar Taman Nasional Komodo, sehingga mereka tidak tergantung lagi pada kegiatan penangkapan ikan yang bersifat merusak untuk mendapatkan pemasukan 2) memperkenalkan siklus budidaya “secara penuh” (mulai dari benih, sebagai pengganti anak ikan yang ditangkap di alam) yang dilakukan dengan standar konservasi yang tinggi 3) perikanan budidaya memberikan kontribusi terhadap perdagangan ikan karang hidup 4) tujuan akhir adalah mengalihkan operasional proyek ini kepada pihak ketiga yang mampu meningkatkan produktifitas dengan memperhatikan kriteria lingkungan dan konservasi, dipantau oleh The Nature Conservancy.

Project staff and trainees from the fishery high school from Sape ©The Nature ConservancyPanti benih ini juga merupakan tempat pelatihan bagi para pelajar sekolah perikanan, di mana kelom-pok-kelompok pelajar terdiri dari lima siswa sekolah perikanan dari Sape-Nusa Tenggara Barat, mengikuti pelatihan di Panti Benih Loh Mbongi masing-masing selama tiga bulan. Para pelajar mendapatkan pelatihan dan sekaligus berkesem-patan untuk terlibat secara langsung dalam operasional proyek budidaya ikan di Loh Mbongi.

Sebagai Cagar Alam dan Budaya serta Kawasan Warisan Dunia, Taman Nasional Komodo merupakan salah satu tempat yang memiliki produk-tifitas dan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Taman Nasional ini memiliki luas 1.817 km2 dan terdapat lebih dari 1.000 jenis ikan, 260 jenis karang pembentuk terumbu, kima raksasa, lobster, penyu, paus dan lumba-lumba.

 


Dokument yang berhubungan

Proyek budidaya ikan

Pengelolaan kolaboratif