|
|
||
|
Lokasi-lokasi Sebaran
Hasil Kawasan Perlindungan Laut
Pada tahun 2001 dan 2002, the Conservancy memimpin sebuah Kajian Ekologis secara singkat (Rapid Ecological Assessment/ REA) ke Kepulauan Sangihe-Talaud dan Kepulauan Banda, untuk mengumpulkan informasi mengenai sumberdaya laut di kepulauan tersebut. Penelitian awal menunjukkan bahwa terumbu karang di Banda memiliki keragaman hayati yang luar biasa, dengan adanya 310 jenis karang pembentuk terumbu, sekitar 871 spesies ikan, serta populasi hiu dan kerapu yang sangat tinggi. Taman karang yang sangat indah, dialiri oleh perairan dalam yang dingin, menunjukkan ketahanan terhadap proses pemutihan karang. Kepulauan Banda telah diajukan sebagai Kawasan Warisan Dunia, dan the Conservancy bekerja bersama dengan UNESCO dan kelompok konservasi setempat membangun strategi perlindungan sumberdaya lautnya. Kepulauan Sangihe-Talaud mengandung salah satu ekosistem terumbu karang yang paling beragam di dunia, namun dampak dari perikanan berlebih, penangkapan ikan dengan menggunakan peledak dan pelumpuran sudah mulai tampak.
The Conservancy juga berpartisipasi pada kegiatan Kajian Ekologis secara cepat yang berfokus pada koridor laut antara Flores dan Alor. Selat-selat ini membentuk celah yang dalam dan sempit antara lautan Hindia dan bentang laut Banda, yang berarus deras dan kaya dengan nutrisi serta paus, lumbalumba, manta, penyu dan mola-mola yang bermigrasi. Dengan dipimpin oleh WWF, the Conservancy sedang dalam proses membentuk kawasan perlindungan laut di Selat Alor. The Conservancy juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam kebijakan mengenai pelestarian mamalia laut.
Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur bagi kalangan penyelam terkenal sangat kaya dengan terumbu karang dan ratusan pari mantanya. Kepulauan itu memiliki banyak sekali penyu bereproduksi dan bertelur, muncul dari laut setiap malam untuk meletakkan telurnya di pantai berpasir putih. Salah satu pulau di gugusan itu, Pulau Kakaban, memiliki populasi dan keragaman ubur-ubur yang paling banyak di dunia, dengan adanya empat spesies unik ubur-ubur yang tidak menyengat. Untuk melindungi Kepulauan Derawan, yang juga telah diusulkan sebagai Kawasan Warisan Dunia, dalam hal ini the Conservancy bekerja bersama dengan mitra dan masyarakat setempat dengan pendekatan konservasi yang sangat terintegrasi “dari gunung hingga karang” (ridges to reef ) di mana kondisi sehat dari daerah aliran sungai, hutan bakau, dan terumbu karang dipandang sebagai saling berhubungan.
The
Conservancy juga telah mengembangkan sebuah kurikulum pelatihan bagi
staf taman nasional untuk memantau lokasi pemijahan ikan yang rentan.
Teknik ini telah digunakan di Karimun Jawa,
Jawa Tengah, Bunaken di
Sulawesi Utara, dan Teluk Cendrawasih
di Papua Barat.
|